Imam Abu Dawud
Setelah Imam
Bukhari dan Imam Muslim, kini giliran Imam Abu Dawud yang juga merupakan tokoh
kenamaan ahli hadits pada jamannya. Kealiman, kesalihan dan kemuliaannya
semerbak mewangi hingga kini.
Nama
Lengkap dan Tahun Kelahirannya:
Abu Dawud nama lengkapnya ialah Sulaiman bin al-Asy'as bin Ishaq bin Basyir bin Syidad bin 'Amr al-Azdi as-Sijistani, seorang imam ahli hadits yang sangat teliti, tokoh terkemuka para ahli hadits setelah dua imam hadits Bukhari dan Muslim serta pengarang kitab Sunan. Ia dilahirkan pada tahun 202 H/817 M di Sijistan.
Perkembangan dan Perlawatannya
Sejak kecilnya Abu Dawud sudah
mencintai ilmu dan para ulama, bergaul dengan mereka untuk dapat mereguk dan
menimba ilmunya.
Belum lagi mencapai usia dewasa, ia telah mempersiapkan dirinya untuk mengadakan perlawatan, mengelilingi berbagai negeri. Ia belajar hadits dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnya, yang dijumpainya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri-negeri lain. Perlawatannya ke berbagai negeri ini membantu dia untuk memperoleh pengetahuan luas tentang hadits, kemudian hadits-hadits yang diperolehnya itu disaring dan hasil penyaringannya dituangkan dalam kitab As-Sunan. Abu Dawud mengunjungi Baghdad berkali-kali. Di sana ia mengajarkan hadits dan fiqh kepada para penduduk dengan memakai kitab Sunan sebagai pegangannya. Kitab Sunan karyanya itu diperlihatkannya kepada tokoh ulama hadits, Ahmad bin Hanbal. Dengan bangga Imam Ahmad memujinya sebagai kitab yang sangat indah dan baik.
Kemudian Abu Dawud menetap di Basrah atas permintaan gubernur setempat yang menghendaki supaya Basrah menjadi "Ka'bah" bagi para ilmuwan dan peminat hadits.
Belum lagi mencapai usia dewasa, ia telah mempersiapkan dirinya untuk mengadakan perlawatan, mengelilingi berbagai negeri. Ia belajar hadits dari para ulama yang tidak sedikit jumlahnya, yang dijumpainya di Hijaz, Syam, Mesir, Irak, Jazirah, Sagar, Khurasan dan negeri-negeri lain. Perlawatannya ke berbagai negeri ini membantu dia untuk memperoleh pengetahuan luas tentang hadits, kemudian hadits-hadits yang diperolehnya itu disaring dan hasil penyaringannya dituangkan dalam kitab As-Sunan. Abu Dawud mengunjungi Baghdad berkali-kali. Di sana ia mengajarkan hadits dan fiqh kepada para penduduk dengan memakai kitab Sunan sebagai pegangannya. Kitab Sunan karyanya itu diperlihatkannya kepada tokoh ulama hadits, Ahmad bin Hanbal. Dengan bangga Imam Ahmad memujinya sebagai kitab yang sangat indah dan baik.
Kemudian Abu Dawud menetap di Basrah atas permintaan gubernur setempat yang menghendaki supaya Basrah menjadi "Ka'bah" bagi para ilmuwan dan peminat hadits.
Guru-gurunya
Para ulama yang menjadi guru Imam Abu
Dawud banyak jumlahnya. Di antaranya guru-guru yang paling terkemuka ialah Ahmad
bin Hanbal, al-Qa'nabi, Abu 'Amr ad-Darir, Muslim bin Ibrahim, Abdullah bin
Raja', Abu'l Walid at-Tayalisi dan lain-lain. Sebagian gurunya ada pula
yang menjadi guru Imam Bukhari dan Imam Muslim, seperti Ahmad bin Hanbal, Usman
bin Abi Syaibah dan Qutaibah bin Sa'id.
Murid-muridnya (Para Ulama yang
Mewarisi Haditsnya)
Ulama-ulama yang mewarisi haditsnya
dan mengambil ilmunya, antara lain Abu 'Isa at-Tirmizi, Abu Abdur Rahman
an-Nasa'i, putranya sendiri Abu Bakar bin Abu Dawud, Abu Awanah, Abu Sa'id
al-A'rabi, Abu Ali al-Lu'lu'i, Abu Bakar bin Dassah, Abu Salim Muhammad bin
Sa'id al-Jaldawi dan lain-lain.
Cukuplah sebagai bukti pentingnya Abu Dawud, bahwa salah seorang gurunya, Ahmad bin Hanbal pernah meriwayatkan dan menulis sebuah hadits yang diterima dari padanya. Hadits tersebut ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Hammad bin Salamah dari Abu Ma'syar ad-Darami, dari ayahnya, sebagai berikut: "Rasulullah SAW. ditanya tentang 'atirah, maka ia menilainya baik."
Cukuplah sebagai bukti pentingnya Abu Dawud, bahwa salah seorang gurunya, Ahmad bin Hanbal pernah meriwayatkan dan menulis sebuah hadits yang diterima dari padanya. Hadits tersebut ialah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, dari Hammad bin Salamah dari Abu Ma'syar ad-Darami, dari ayahnya, sebagai berikut: "Rasulullah SAW. ditanya tentang 'atirah, maka ia menilainya baik."
Akhlak
dan Sifat-sifatnya yang Terpuji
Abu Dawud
adalah salah seorang ulama yang mengamalkan ilmunya dan mencapai derajat tinggi
dalam ibadah, kesucian diri, wara' dan kesalehannya. Ia adalah seorang sosok
manusia utama yang patut diteladani perilaku, ketenangan jiwa dan
kepribadiannya. Sifat-sifat Abu Dawud ini telah diungkapkan oleh sebagian ulama
yang menyatakan: Abu Dawud menyerupai Ahmad bin Hanbal dalam perilakunya,
ketenangan jiwa dan kebagusan pandangannya serta kepribadiannya. Ahmad dalam
sifat-sifat ini menyerupai Waki', Waki menyerupai Sufyan as-Sauri, Sufyan
menyerupai Mansur, Mansur menyerupai Ibrahim an-Nakha'i, Ibrahim menyerupai
'Alqamah dan ia menyerupai Ibn Mas'ud. Sedangkan Ibn Mas'ud sendiri menyerupai
Nabi SAW. dalam sifat-sifat tersebut. Sifat dan kepribadian yang mulia seperti
ini menunjukkan aatas kesempurnaan keberagamaan, tingkah laku dan akhlak.
Abu Dawud mempunyai pandangan dan falsafah sendiri dalam cara berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar namun yang satunya lebih kecil dan sempit. Seseorang yang melihatnya bertanya tentang kenyentrikan ini, ia menjawab: "Lengan baju yang lebar ini digunakan untuk membawa kitab-kitab, sedang yang satunya lagi tidak diperlukan. Jadi, kalau dibuat lebar, hanyalah berlebih-lebihan.
Abu Dawud mempunyai pandangan dan falsafah sendiri dalam cara berpakaian. Salah satu lengan bajunya lebar namun yang satunya lebih kecil dan sempit. Seseorang yang melihatnya bertanya tentang kenyentrikan ini, ia menjawab: "Lengan baju yang lebar ini digunakan untuk membawa kitab-kitab, sedang yang satunya lagi tidak diperlukan. Jadi, kalau dibuat lebar, hanyalah berlebih-lebihan.
Pujian Para Ulama Kepadanya
Abu Dawud adalah juga merupakan
"bendera Islam" dan seorang hafiz yang sempurna, ahli fiqh dan
berpengetahuan luas terhadap hadits dan ilat-ilatnya. Ia memperoleh penghargaan
dan pujian dari para ulama, terutama dari gurunya sendiri, Ahmad bin Hanbal.
Al-Hafiz Musa bin Harun berkata mengenai Abu Dawud: "Abu Dawud diciptakan
di dunia hanya untuk hadits, dan di akhirat untuk surga. Aku tidak melihat
orang yang lebih utama melebihi dia." Sahal bin Abdullah At-Tistari,
seorang yang alim mengunjungi Abu Dawud. Lalu dikatakan kepadanya: "Ini
adalah Sahal, dating berkunjung kepada tuan." Abu Dawud pun menyambutnya
dengan hormat dan mempersilahkan duduk. Kemudian Sahal berkata: "Wahai Abu
Dawud, saya ada keperluan keadamu." Ia bertanya: "Keperluan apa?"
"Ya, akan saya utarakan nanti, asalkan engkau berjanji akan memenuhinya
sedapat mungkin," jawab Sahal. "Ya, aku penuhi maksudmu selama aku
mampu," tandan Abu Dawud. Lalu Sahal berkata: "Jujurkanlah lidahmu
yang engkau pergunakan untuk meriwayatkan hadits dari Rasulullah SAW. sehingga
aku dapat menciumnya." Abu Dawud pun lalu menjulurkan lidahnya yang
kemudian dicium oleh Sahal.
Ketika Abu Dawud menyusun kitab Sunan, Ibrahim al-Harbi, seorang ulama ahli hadits berkata: "Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud." Ungkapan ini adalah kata-kata simbolik dan perumpamaan yang menunjukkan atas keutamaan dan keunggulan seseorang di bidang penyusunan hadits. Ia telah mempermudah yang sulit, mendekatkan yang jauh dan memudahkan yang masih rumit dan pelik.
Abu Bakar al-Khallal, ahli hadits dan fiqh terkemuka yang bermadzhab Hanbali, menggambarkan Abu Dawud sebagai berikut; Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'as, imam terkemuka pada jamannya adalah seorang tokoh yang telah menggali beberapa bidang ilmu dan mengetahui tempat-tempatnya, dan tiada seorang pun pada masanya yang dapat mendahului atau menandinginya. Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar bin Sadaqah senantiasa menyinggung-nyingung Abu Dawud karena ketinggian derajatnya, dan selalu menyebut-nyebutnya dengan pujian yang tidak pernah mereka berikan kepada siapa pun pada masanya.
Ketika Abu Dawud menyusun kitab Sunan, Ibrahim al-Harbi, seorang ulama ahli hadits berkata: "Hadits telah dilunakkan bagi Abu Dawud, sebagaimana besi dilunakkan bagi Nabi Dawud." Ungkapan ini adalah kata-kata simbolik dan perumpamaan yang menunjukkan atas keutamaan dan keunggulan seseorang di bidang penyusunan hadits. Ia telah mempermudah yang sulit, mendekatkan yang jauh dan memudahkan yang masih rumit dan pelik.
Abu Bakar al-Khallal, ahli hadits dan fiqh terkemuka yang bermadzhab Hanbali, menggambarkan Abu Dawud sebagai berikut; Abu Dawud Sulaiman bin al-Asy'as, imam terkemuka pada jamannya adalah seorang tokoh yang telah menggali beberapa bidang ilmu dan mengetahui tempat-tempatnya, dan tiada seorang pun pada masanya yang dapat mendahului atau menandinginya. Abu Bakar al-Asbihani dan Abu Bakar bin Sadaqah senantiasa menyinggung-nyingung Abu Dawud karena ketinggian derajatnya, dan selalu menyebut-nyebutnya dengan pujian yang tidak pernah mereka berikan kepada siapa pun pada masanya.
Madzhab Fiqh Abu Dawud
Syaikh Abu Ishaq asy-Syairazi dalam
asy-Syairazi dalam Tabaqatul-Fuqaha-nya menggolongkan Abu Dawud ke dalam
kelompok murid-murid Imam Ahmad. Demikian juga Qadi Abu'l-Husain Muhammad bin
al-Qadi Abu Ya'la (wafat 526 H) dalam Tabaqatul-Hanabilah-nya. Penilaian ini nampaknya disebabkan oleh Imam Ahmad merupakan
gurunya yang istimewa. Menurut satu pendapat, Abu Dawud adalah bermadzhab
Syafi'i.
Menurut pendapat yang lain, ia adalah seorang mujtahid sebagaimana dapat dilihat pada gaya susunan dan sistematika Sunan-nya. Terlebih lagi bahwa kemampuan berijtihad merupakan salah satu sifat khas para imam hadits pada masa-masa awal.
Menurut pendapat yang lain, ia adalah seorang mujtahid sebagaimana dapat dilihat pada gaya susunan dan sistematika Sunan-nya. Terlebih lagi bahwa kemampuan berijtihad merupakan salah satu sifat khas para imam hadits pada masa-masa awal.
Memandang
Tinggi Kedudukan Ilmu dan Ulama
Sikap Abu
Dawud yang memandang tinggi terhadap kedudukan ilmu dan ulama ini dapat dilihat
pada kisah berikut sebagaimana dituturkan, dengan sanad lengkap, oleh Imam
al-Khattabi, dari Abu Bakar bin Jabir, pembantu Abu Dawud. Ia berkata:
"Aku bersama Abu Dawud tinggi di Baghdad.
Pada suatu waktu, ketika kami selesai menunaikan shalat Maghrib, tiba-tiba
pintu rumah diketuk orang, lalu pintu aku buka dan seorang pelayan melaporkan
bahwa Amir Abu Ahmad al-Muwaffaq mohon ijin untuk masuk. Kemudian aku melapor
kepada Abu Dawud tentang tamu ini, dan ia pun mengijinkan. Sang Amir pun masuk,
lalu duduk. Tak lama kemudian Abu Dawud menemuinya seraya berkata:
"Gerangan apakah yang membawamu datang ke sini pada saat seperti
ini?" "Tiga kepentingan," jawab Amir. "Kepentingan
apa?" tanyanya. Amir menjelaskan, "Hendaknya tuan berpindah ke Basrah
dan menetap di sana, supaya para penuntut ilmu dari berbagai penjuru dunia
dating belajar kepada tuan; dengan demikian Basrah akan makmur kembali. Ini mengingat bahwa Basrah telah hancur dan ditinggalkan
orang akibat tragedy Zenji." Abu Dawud berkata: "Itu yang pertama,
sebutkan yang kedua!" "Hendaknya tuan berkenan mengajarkan kitab
Sunan kepada putra-putraku," kata Amir. "Ya, ketiga?" Tanya Abu
Dawud kembali. Amir menerangkan: "Hendaknya tuan mengadakan majelis
tersendiri untuk mengajarkan hadits kepada putra-putra khalifah, sebab mereka
tidak mau duduk bersama-sama dengan orang umum." Abu Dawud menjawab:
"Permintaan ketiga tidak dapat aku penuhi; sebab manusia itu baik
pejabat terhormat maupun rakyat melarat, dalam bidang ilmu sama." Ibn
Jabir menjelaskan: "Maka sejak itu putra-putra khalifah hadir dan duduk
bersama di majelis taklim; hanya saja di antara mereka dengan orang umum di
pasang tirai, dengan demikian mereka dapat belajar bersama-sama."
Maka hendaknya para ulama tidak mendatangi para raja dan penguasa, tetapi merekalah yang harus dating kepada para ulama. Dan kesamaan derajat dalam ilmu dan pengetahuan ini, hendaklah dikembangkan apa yang telah dilakukan Abu Dawud tersebut.
Maka hendaknya para ulama tidak mendatangi para raja dan penguasa, tetapi merekalah yang harus dating kepada para ulama. Dan kesamaan derajat dalam ilmu dan pengetahuan ini, hendaklah dikembangkan apa yang telah dilakukan Abu Dawud tersebut.
Tanggal Wafatnya
Setelah mengalami kehidupan penuh
berkat yang diisi dengan aktivitas ilmia, menghimpun dan menyebarluaskan
hadits, Abu Dawud meninggal dunia di Basrah yang dijadikannya sebagai tempat
tinggal atas permintaan Amir sebagaimana telah diceritakan. Ia wafat pada
tanggal 16 Syawwal 275 H/889M. Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat dan
ridha-Nya kepadanya.
Karya-karyanya
1.
Imam Abu Dawud banyak memiliki karya, antara
lain:
2.
Kitab AS-Sunnan (Sunan Abu Dawud).
3.
Kitab Al-Marasil.
4.
Kitab Al-Qadar.
5.
An-Nasikh wal-Mansukh.
6.
Fada'il al-A'mal.
7.
Kitab Az-Zuhd.
8.
Dala'il an-Nubuwah.
9.
Ibtida' al-Wahyu.
10. Ahbar al-Khawarij.
Di antara
karya-karya tersebut yang paling bernilai tinggi dan masih tetap beredar adalah
kitab Amerika Serikat-Sunnan, yang kemudian terkenal dengan nama Sunan Abi
Dawud.
Kitab
Sunan Karya Abu Dawud
Metode
Abu Dawud dalam Penyusunan Sunan-nya
Karya-karya di
bidang hadits, kitab-kitab Jami' Musnad dan sebagainya disamping berisi
hadits-hadits hokum, juga memuat hadits-hadits yang berkenaan dengan amal-amal
yang terpuji (fada'il a'mal) kisah-kisah, nasehat-nasehat (mawa'iz), adab dan
tafsir. Cara demikian tetap berlangsung sampai datang Abu Dawud. Maka Abu Dawud
menyusun kitabnya, khusus hanya memuat hadits-hadits hukum dan sunnah-sunnah
yang menyangkut hukum. Ketika selesai menyusun kitabnya itu kepada Imam Ahmad
bin Hanbal, dan Ibn Hanbal memujinya sebagai kitab yang indah dan baik.
Abu Dawud
dalam sunannya tidak hanya mencantumkan hadits-hadits sahih semata sebagaimana
yang telah dilakukan Imam Bukhari dan Imam Muslim, tetapi ia memasukkan pula
kedalamnya hadits sahih, hadits hasan, hadits dha'if yang tidak terlalu lemah
dan hadits yang tidak disepakati oleh para imam untuk ditinggalkannya.
Hadits-hadits yang sangat lemah, ia jelaskan kelemahannya.
Cara yang
ditempuh dalam kitabnya itu dapat diketahui dari suratnya yang ia kirimkan
kepada penduduk Makkah sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan mereka
mengenai kitab Sunannya. Abu Dawud menulis sbb:
"Aku mendengar dan menulis hadits Rasulullah SAW sebanyak 500.000 buah. Dari jumlah itu, aku seleksi sebanyak 4.800 hadits yang kemudian aku tuangkan dalam kitab Sunan ini. Dalam kitab tersebut aku himpun hadits-hadits sahih, semi sahih dan yang mendekati sahih. Dalam kitab itu aku tidak mencantumkan sebuah hadits pun yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan. Segala hadits yang mengandung kelemahan yang sangat kujelaskan, sebagai hadits macam ini ada hadits yang tidak sahih sanadnya. Adapun hadits yang tidak kami beri penjelasan sedikit pun, maka hadits tersebut bernilai salih (bias dipakai alasan, dalil), dan sebagian dari hadits yang sahih ini ada yang lebih sahih daripada yang lain. Kami tidak mengetahui sebuah kitab, sesudah Qur'an, yang harus dipelajari selain daripada kitab ini. Empat buah hadits saja dari kitab ini sudah cukup menjadi pegangan bagi keberagaman tiap orang. Hadits tersebut adalah, yang artinya:
"Aku mendengar dan menulis hadits Rasulullah SAW sebanyak 500.000 buah. Dari jumlah itu, aku seleksi sebanyak 4.800 hadits yang kemudian aku tuangkan dalam kitab Sunan ini. Dalam kitab tersebut aku himpun hadits-hadits sahih, semi sahih dan yang mendekati sahih. Dalam kitab itu aku tidak mencantumkan sebuah hadits pun yang telah disepakati oleh orang banyak untuk ditinggalkan. Segala hadits yang mengandung kelemahan yang sangat kujelaskan, sebagai hadits macam ini ada hadits yang tidak sahih sanadnya. Adapun hadits yang tidak kami beri penjelasan sedikit pun, maka hadits tersebut bernilai salih (bias dipakai alasan, dalil), dan sebagian dari hadits yang sahih ini ada yang lebih sahih daripada yang lain. Kami tidak mengetahui sebuah kitab, sesudah Qur'an, yang harus dipelajari selain daripada kitab ini. Empat buah hadits saja dari kitab ini sudah cukup menjadi pegangan bagi keberagaman tiap orang. Hadits tersebut adalah, yang artinya:
Pertama:
"Segala amal itu hanyalah menurut niatnya, dan tiap-tiap or memperoleh apa yang ia niatkan. Karena itu maka barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya pula. Dan barang siapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia atau karena perempuan yang ingin dikawininya, maka hijrahnya hanyalah kepada apa yang dia hijrah kepadanya itu."
"Segala amal itu hanyalah menurut niatnya, dan tiap-tiap or memperoleh apa yang ia niatkan. Karena itu maka barang siapa berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya pula. Dan barang siapa hijrahnya karena untuk mendapatkan dunia atau karena perempuan yang ingin dikawininya, maka hijrahnya hanyalah kepada apa yang dia hijrah kepadanya itu."
Kedua:
"Termasuk kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya."
"Termasuk kebaikan Islam seseorang ialah meninggalkan apa yang tidak berguna baginya."
Ketiga:
"Tidaklah seseorang beriman menjadi mukmin sejati sebelum ia merelakan untuk saudaranya apa-apa yang ia rela untuk dirinya."
"Tidaklah seseorang beriman menjadi mukmin sejati sebelum ia merelakan untuk saudaranya apa-apa yang ia rela untuk dirinya."
Keempat:
"Yang halal itu sudah jelas, dan yang harampun telah jelas pula. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (atau samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menghindari syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya; dan barang siapa terjerumus ke dalam syubhat, maka ia telah terjerumus ke dalam perbuatan haram, ibarat penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat tempat terlarang.
Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa itu mempunyai larangan. Ketahuilah, sesungguhnya larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah, di dalam rumah ini terdapat sepotong daging, jika ia baik, maka baik pulalah semua tubuh dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia itu hati."
"Yang halal itu sudah jelas, dan yang harampun telah jelas pula. Di antara keduanya terdapat hal-hal syubhat (atau samar) yang tidak diketahui oleh banyak orang. Barang siapa menghindari syubhat, maka ia telah membersihkan agama dan kehormatan dirinya; dan barang siapa terjerumus ke dalam syubhat, maka ia telah terjerumus ke dalam perbuatan haram, ibarat penggembala yang menggembalakan ternaknya di dekat tempat terlarang.
Ketahuilah, sesungguhnya setiap penguasa itu mempunyai larangan. Ketahuilah, sesungguhnya larangan Allah adalah segala yang diharamkan-Nya. Ingatlah, di dalam rumah ini terdapat sepotong daging, jika ia baik, maka baik pulalah semua tubuh dan jika rusak maka rusak pula seluruh tubuh. Ingatlah, ia itu hati."
Demikianlah
penegasan Abu Dawud dalam suratnya. Perkataan Abu Dawud itu dapat dijelaskan
sebagai berikut:
Hadits pertama adalah ajaran tentang niat dan keikhlasan yang merupakan asas utama bagi semua amal perbuatan diniah dan duniawiah.
Hadits kedua merupakan tuntunan dan dorongan bagi ummat Islam agar selalu melakukan setiap yang bermanfaat bagi agama dan dunia.
Hadits ketiga, mengatur tentang hak-hak keluarga dan tetangga, berlaku baik dalam pergaulan dengan orang lain, meninggalkan sifat-sifat egoistis, dan membuang sifat iri, dengki dan benci, dari hati masing-masing.
Hadits keempat merupakan dasar utama bagi pengetahuan tentang halal haram, serta cara memperoleh atau mencapai sifat wara', yaitu dengan cara menjauhi hal-hal musykil yang samar dan masih dipertentangkan status hukumnya oleh para ulama, karena untuk menganggap enteng melakukan haram.
Dengan hadits ini nyatalah bahwa keempat hadits di atas, secara umum, telah cukup untuk membawa dan menciptakan kebahagiaan.
Hadits pertama adalah ajaran tentang niat dan keikhlasan yang merupakan asas utama bagi semua amal perbuatan diniah dan duniawiah.
Hadits kedua merupakan tuntunan dan dorongan bagi ummat Islam agar selalu melakukan setiap yang bermanfaat bagi agama dan dunia.
Hadits ketiga, mengatur tentang hak-hak keluarga dan tetangga, berlaku baik dalam pergaulan dengan orang lain, meninggalkan sifat-sifat egoistis, dan membuang sifat iri, dengki dan benci, dari hati masing-masing.
Hadits keempat merupakan dasar utama bagi pengetahuan tentang halal haram, serta cara memperoleh atau mencapai sifat wara', yaitu dengan cara menjauhi hal-hal musykil yang samar dan masih dipertentangkan status hukumnya oleh para ulama, karena untuk menganggap enteng melakukan haram.
Dengan hadits ini nyatalah bahwa keempat hadits di atas, secara umum, telah cukup untuk membawa dan menciptakan kebahagiaan.
Komentar Para Ulama Mengenai Kedudukan
Kitab Sunan Abu Dawud
Tidak sedikit ulama yang memuji kitab
Sunan ini. Hujatul Islam, Imam Abu Hamid al-Ghazali berkata: "Sunan Abu
Dawud sudah cukup bagi para mujtahid untuk mengetahui hadits-hadits
ahkam." Demikian juga dua imam besar, An-Nawawi dan Ibnul Qayyim
Al-Jauziyyah memberikan pujian terhadap kitab Sunan ini bahkan beliau
menjadikan kitab ini sebagai pegangan utama di dalam pengambilan hokum.
Hadits-hadits
Sunan Abu Dawud yang Dikritik
Imam Al-Hafiz
Ibnul Jauzi telah mengkritik beberapa hadits yang dicantumkan oleh Abu Dawud
dalam Sunannya dan memandangnya sebagai hadits-hadits maudu' (palsu). Jumlah
hadits tersebut sebanyak 9 buah hadits. Walaupun demikian, disamping Ibnul
Jauzi itu dikenal sebagai ulama yang terlalu mudah memvonis "palsu",
namun kritik-kritik telah ditanggapi dan sekaligus dibantah oleh sebagian ahli
hadits, seperti Jalaluddin Amerika Serikat-Suyuti. Dan andaikata kita menerima
kritik yang dilontarkan Ibnul Jauzi tersebut, maka sebenarnya hadits-hadits
yang dikritiknya itu sedikit sekali jumlahnya, dan hampir tidak ada pengaruhnya
terhadap ribuan hadits yang terkandung di dalam kitab Sunan tersebut. Karena
itu kami melihat bahwa hadits-hadits yang dikritik tersebut tidak mengurangi
sedikit pun juga nilai kitab Sunan sebagai referensi utama yang dapat
dipertanggungjawabkan keabsahanya.
Jumlah
Hadits Sunan Abu Dawud
Di atas telah
disebutkan bahwa isi Sunan Abu Dawud itu memuat hadits sebanyak 4.800
buah hadits. Namun sebagian ulama ada yang menghitungnya sebanyak 5.274
buah hadits. Perbedaan jumlah ini disebabkan bahwa sebagian orang yang
menghitungnya memandang sebuah hadits yang diulang-ulang sebagai satu hadits,
namun yang lain menganggapnya sebagai dua hadits atau lebih. Dua jalan
periwayatan hadits atau lebih ini telah dikenal di kalangan ahli hadits.
Abu Dawud
membagi kitab Sunannya menjadi beberapa kitab, dan tiap-tiap kitab dibagi pula
ke dalam beberapa bab. Jumlah kitab sebanyak 35 buah, di antaranya ada 3 kitab
yang tidak dibagi ke dalam bab-bab. Sedangkan jumlah bab sebanyak 1.871 buah
bab. (Ahmad Diar)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar